Wednesday, May 04, 2011

Put Meaning in Your Job

Reaksi seperti apa yang Anda temukan dari seorang penjaga pintu tol setiap kali melintasi pintu tol dan membayar tiket? Hampir sebagian besar reaksi penjaga pintu tol berdiam diri saja sambil memberi karcis, memberikan uang kembalian, bahkan sama sekali tidak melihat wajah pengendara yang melintas.


Akan tetapi, pernah ketika melewati salah satu pintu tol, saya menemukan penjaga karcis yang sedang bertugas memberikan uang kembalian sambil tersenyum, dan sempat melontarkan sebuah kalimat yakni "Terima kasih Pak. Hati-hati di jalan." Hal yang terkesan sederhana, tapi begitu bermakna untuk saya secara pribadi. Karena selama ini ketika melintas pintu tol, saya belum pernah menemukan pelayanan yang sedemikian ramah dan peduli dengan keselamatan pengemudi yang melintas.


Apa yang dilakukan penjaga karcis tol tersebut tentu berbeda dari kebanyakan rekannya yang lain. Rekannya yang lain hanya berdiam diri, bahkan tidak menyapa pengemudi yang melintas, tapi hal tersebut tidak dilakukan penjaga karcis tol ini. Mengapa bisa berbeda cara kerja mereka? Padahal jika penjaga karcis tol ini mau, ia tentu bisa saja mengikuti cara kerja rekannya yang lain. Ini adalah masalah PILIHAN!

Penjaga karcis tol ini memilih untuk memaknai pekerjaannya dengan positif. Banyak orang menganggap pekerjaan sebagai penjaga karcis tol adalah pekerjaan yang menjenuhkan. Setiap menit, setiap jam harus melayani ratusan pengendara mobil yang melintas. Titik jenuh mungkin saja dialami oleh penjaga karcis tol tadi, tapi ia mencoba mengatasinya dengan menjalin hubungan yang positif dengan pengemudi yang melintas. Saat itu, ia tidak sekadar menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Ia bekerja tidak sekadar demi uang semata. Tapi ia bekerja karena ada sebuah makna yang ingin ia berikan kepada orang lain. Ia ingin menjadi orang yang punya pengaruh dan dampak yang positif untuk orang lain.

Ketika seseorang memberi arti terhadap pekerjaannya, maka ia akan jauh lebih bersemangat. Adakalanya manusia jenuh dan lelah dengan aktivitasnya sehari-hari, akan tetapi jika mau memaknai pekerjaannya, dan melihat bahwa apa yang dilakukannya setiap hari memiliki dampak yang luar biasa untuk orang lain, maka sebenarnya ia telah memberi nilai manfaat yang luar biasa untuk banyak orang.

Menjadi refleksi bagi kita bersama untuk lebih memaknai apa yang kita kerjakan hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. Meletakkan makna dalam sebuah profesi tidak sekadar berorientasi pada diri sendiri melainkan bagaimana lewat profesi kita mampu memberi dampak yang positif kepada orang lain. Apapun profesi kita saat ini, entah itu seorang karyawan, dokter, politisi, salesman, staf admin, manager, bankir, pengusaha, public figure, pejabat negara, wakil rakyat: hendaknya mampu memberikan dampak yang positif untuk orang lain, tidak sekadar demi diri kita sendiri.

Apakah kita lebih banyak memikirkan keuntungan pribadi atau justru lebih mengutamakan melayani dan membantu orang lain?Seorang salesman yang mengerti kebutuhan pelanggan dan memberikan solusi yang terbaik lewat produk dan jasa yang dijual, tanpa memikirkan komisi atau bonus sebagai prioritas. Seorang bankir yang berusaha menjaga dana nasabahnya dengan baik, tanpa berusaha untuk memanipulasi demi kepentingan diri. Seorang wakil rakyat yang berjuang keras untuk menyalurkan aspirasi rakyat lewat kinerja nyata, tanpa lebih dulu memikirkan kesenangan pribadi.

Sebagian contoh di atas adalah bentuk perwujudan bagaimana setiap orang yang punya peran dan tanggung jawab di lingkungan di mana ia bekerja, seharusnya lebih memfokuskan kepada orang lain dan memberi nilai tambah bagi mereka. Banyak orang mungkin berpikir, "Wah, idealis sekali? Kita di dunia ini butuh makan, perlu uang, apakah mungkin kita tidak bekerja demi mencari uang atau keuntungan?"

Uang mungkin saja penting, tapi terkadang uang bukanlah segalanya! Cara yang kita lakukan untuk mencapai tujuan tentunya harus bijaksana, bukan dengan menghalalkan segala cara. Karena pada akhirnya seseorang dinilai bukan dari seberapa besar kekayaan, harta, pengalaman, atau kebesaran pangkat yang dimilikinya, melainkan nilai manfaat dan makna yang telah dibagi kepada orang banyak selama ia masih berkarya di dunia ini.

Mengutip sebuah pepatah yang mengatakan: "If you work just for money, you'll never make it. But if you love what you're doing and you always put the customer first, success will be yours." Jika Anda bekerja hanya demi uang, Anda tidak akan mendapatkannya, tapi jika Anda mencintai apa yang Anda kerjakan dan selalu meletakkan pelanggan sebagai yang utama, maka keberhasilan akan menjadi milik Anda.

Semoga kita semua mampu memberi arti positif buat sekitar kita lewat apa yang kita lakukan. Jadilah terang bukan gelap sehingga kehadiran kita di dunia ini mampu menyinari lingkungan kita.





Salam Amazing,





Muk Kuang


@mukkuang

Sunday, February 06, 2011

Lessons Learned from Shaolin (Movie)

Setelah sekian lama tidak menyaksikan kemampuan akting seorang Andy Lau, saya dibuat kagum kembali lewat film terbaru beliau yang berjudul 'Shaolin'. Film yang mengisahkan seorang Jendral (diperankan oleh Andy Lau) yang arogan dan kejam, akhirnya dikhianati oleh orang terdekatnya sendiri (diperankan oleh Nicholas Tse). Kekuasaan sang Jendral diambil alih. Semua keluarga sang Jendral terancam dibunuh, dan pada akhirnya anak perempuan satu-satunya sang Jendral meninggal dunia. Singkat cerita, Sang Jendral menyadari kesalahan masa lalunya, dan ia memulihkan diri di kuil Shaolin dan banyak mempelajari kebajikan dan makna kehidupan yang sebenarnya.

Tentunya saya tidak ingin mengupas terlalu detail film Shaolin ini dalam tulisan saya :), tapi pada kesempatan ini, ijinkan saya ingin berbagi beberapa pelajaran menarik yang saya dapatkan lewat film ini

1. Memaafkan bukan Balas Dendam
Bukan perkara yang mudah untuk memaafkan seseorang yang telah melukai Anda dan keluarga. Tapi hal yang sulit dilakukan bukan berarti tidak bisa. Menyimpan luka, menyimpan kebencian dalam diri, layaknya kita menyimpan racun dalam tubuh yang justru akan menyengsarakan diri kita. Sebuah harmoni tercipta manakala salah satu pihak mau membuka mata hati untuk memaafkan. Memaafkan bukan berarti Anda kalah, melainkan menciptakan sebuah perdamaian. Perselisihan yang berkepanjangan, perang yang tiada henti bukanlah solusi. Kita diajari tentang kebaikan bukan kekerasan. Berdamai dengan diri sendiri dan orang lain akan membuat hidup kita jauh lebih tenang. Memang kita adalah manusia biasa yang memiliki kekurangannya masing-masing, tapi lewat kekurangan itu kita mau berubah, mau mencoba untuk hidup lebih baik. Mari bersama-sama kita wujudkan dalam hidup kita

2. Apa yang Kita cari dalam hidup ini?
Kekuasaan, pangkat, tahta, harta, terkadang bisa menyilaukan kita sampai-sampai kita berbuat sesuatu di luar akal sehat, menjadi kejam, sombong, merendahkan orang lain, dan lain sebagainya. Akan tetapi semua kekuasaan itu hanyalah bersifat sementara. Suatu ketika hal tersebut bisa hilang dari kita. Itu semua hanyalah titipan. Apa sih sebenarnya yang kita cari dalam hidup ini?, Kekuasaan dan harta sematakah?.
Pada akhirnya kita dinilai bukan dari berapa banyak harta dan pangkat yang kita miliki, melainkan berapa banyak kebaikan dan kebenaran yang telah kita bagi banyak orang. Semoga hal ini menjadi renungan kita bersama termasuk saya agar lebih memaknai hidup ini dengan lebih positif.

Apapun peran kita di masyarakat, jadilah sumber kebaikan. Jika Anda seorang pemimpin, kepala rumah tangga, atau siapapun yang memiliki pengaruh di lingkungan sekitar, sebarkanlah ajaran yang baik. Taburlah lebih banyak benih kebenaran, perdamaian dan kebaikan, bukan benih kesombongan, kekerasan, dan kejahatan. Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari sekarang. Semoga kehadiran kita sebagai individu di dunia ini memberi makna yang positif untuk banyak orang.
God bless!

ps: Trailer + OST Shaolin dapat dilihat di entri sebelumnya


Muk Kuang (mukkuang@gmail.com)
Book Author ‘Amazing Life – Think & Act like A Winner’
Twitter : @mukkuang

OST Shaolin - Andy Lau