Tuesday, August 07, 2007
Becoming a Hero or Loser?
Judul diatas terinspirasi dari sebuah pertanyaan yang diberikan kepada finalis Putri Indonesia 2007 di bagian akhir dari kompetisi tersebut. “Apa perbedaan seorang pahlawan dengan seorang pengecut?”, begitulah kira-kira pertanyaannya. Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana dan cukup menarik bagi saya pribadi.
Saya rasa hampir setiap individu berharap dapat menjadi seorang pahlawan dan bukan malah menjadi seorang pengecut di masyarakat. Tidak ada yang terlahir dan ingin menjadi seorang yang pengecut, justru sebaliknya ingin menjadi figure seorang pahlawan. Pahlawan tentu tidak selamanya harus sama persis seperti para pejuang dulu dengan membawa bambu runcing dan membela negara ini, melainkan seseorang bisa menjadi pahlawan bagi dirinya dan orang lain.
Ketika seseorang berjuang untuk dirinya sendiri, tidak menyerah akan keadaan yang sedang menimpa dirinya, terus berupaya meraih apa yang menjadi impiannya, dan merdeka atas belenggu negatif yang mengikat dirinya, maka saat itu ia menjadi pahlawan bagi dirinya.
Ketika seseorang berani mengungkap sebuah kebenaran untuk kebaikan banyak orang, berani bertindak untuk sesuatu yang positif bagi sekitarnya, menginspirasi banyak orang orang lewat karyanya, dan memberi nilai yang berharga untuk pertumbuhan orang lain, maka saat itu ia pun menjadi pahlawan bagi orang lain.
Lalu bagaimana dengan mereka yang masuk ke dalam golongan pengecut?
Sekali lagi, mereka tidak dilahirkan seperti itu dan otomatis menjadi orang yang pengecut. Akan tetapi mengapa tercipta golongan ini, karena pilihan yang mereka ambil sendiri. Menjadi berani atau tidak, mau merdeka atau tidak, mau berusaha atau tidak, mau menyerah atau tidak, menjadi orang yang berguna atau tidak, mau bangkit atau terus menerus jatuh, semua hal tersebut adalah pilihan yang diambil. Mereka yang pengecut takut untuk mengambil sebuah langkah yang besar untuk perubahan yang lebih baik. Mereka khawatir akan masa depan yang terjadi, dan mengeluhkan kejadian buruk yang terjadi pada dirinya saat ini.
Pola pikir, tingkah laku, determinasi, kepercayaan diri, antusiasme, adalah salah satu faktor yang bisa membedakan seorang pahlawan dengan seorang pengecut (pecundang). Setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi seorang pahlawan, begitupun sebaliknya. Anda tentu masih ingat dengan lagu yang dibawakan Mariah Carey, penggalan liriknya mengatakan demikian ‘there’s a hero, if you look inside your heart, and you don’t have to be afraid of what you are…..” Jadi jangan sia-siakan potensi dalam diri Anda, lakukan hal besar dan positif untuk diri Anda sendiri dan orang lain. Bangsa ini butuh banyak pejuang dan pahlawan, bukan seorang yang pengecut. Mari kita bangun kembali bangsa ini dengan sikap mental dan perilaku yang positif. Yakinkan diri Anda bahwa Anda bisa.
Salam pemenang,
Muk Kuang
(Trainer, Motivational Speaker, Author)
mukkuang@gmail.com
Thursday, May 03, 2007
Mau Sukses, Jangan Manja!
Salah seorang wirausaha sukses dari Singapura berbagi pengalaman hidupnya yang penuh dengan perjuangan. Beliau menyebutnya sebagai “pelajaran 10 sen”. Dalam kondisi demam yang tinggi, beliau menggunakan telepon umum untuk menelepon Ayahnya agar dijemput. Saat itu beliau masih berusia 10 tahun. Akan tetapi sang Ayah justru tidak terlalu kasihan dan sedih, melainkan menjawab dengan berkata, “Mengapa kamu menelepon? Mengapa kamu menghabiskan 10 sen hanya untuk hal ini? Apakah kamu bisa mendapatkan kembali uang 10 sen sekarang? Pulang sendiri. Kamu bukannya tidak bertenaga, kamu masih kuat.”
Terkesan memang agak keras didikannya, tapi pelajaran inilah yang justru membuat beliau akhirnya menyadari bahwa hidup ini harus berjuang dan kerja keras, bukan dengan sikap mental yang manja, dan pada akhirnya beliau tahu apa arti sukses.
Bagaimana dengan Anda?
Bagaimana dengan anak Anda?
Bagaimana dengan lingkungan sekitar Anda?
Apakah masih memelihara sikap mental tersebut?
Ayah saya pernah mengatakan, “Jika Anda mendapat sesuatu dengan mudah, maka Anda akan melepaskannya pun dengan mudah. Jika Anda mendapat sesuatu dengan kerja keras, maka Anda akan sangat menghargainya dan akan berpikir dua kali untuk menyia-nyiakannya.”
Pelajaran berharga ini yang selalu ditanamkan kepada anak-anaknya dan membuat saya menyadari bahwa hidup ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, kesuksesan tidak hanya bisa diraih dengan menekan tombol remote dan langsung jadi, tapi butuh sebuah usaha dan kegigihan dari setiap orang.
Selalu belajar untuk tidak menengadahkan tangan kita untuk meminta. Apabila itu adalah pemberian dari orang lain, syukurilah. Tapi jangan pernah meminta jika kita masih bisa melakukan sesuatu dan berusaha. Karena ketika seseorang sudah terbiasa meminta, maka sikap mental ini mulai tertanam dan akan menjadi enggan untuk bekerja keras, sebab segala sesuatunya dengan mudah didapatkannya.
Fenomena ini terkadang masih ada di sekitar kita, apapun yang diminta kepada orangtuanya akan selalu diberikan. Mau mobil baru bisa langsung dipesan, Mau ganti handphone baru bisa langsung dibelikan, dan semua hal yang diinginkan dengan mudah bisa diberikan oleh orangtuanya. Inilah sikap bergantung kepada orang lain. Inilah sikap manja yang justru tidak akan memberikan dampak yang positif kepada sang anak.
Mengutip sebuah pepatah yang sangat inspiratif yaitu, “One who has not tasted bitter, knows not what sweet is.” Seseorang yang tidak pernah mengecap rasa pahit, tidak tahu rasa manis seperti apa. Anda akan jauh menghargai sebuah kesuksesan jika Anda tahu betapa pentingnya sebuah keyakinan, kemauan keras, kerja keras, dan keteguhan hati dalam menjalani proses hidup.
If you want to get something, You have to fight for it.
If you don’t want to fight for it, Never expect anything
Terkesan memang agak keras didikannya, tapi pelajaran inilah yang justru membuat beliau akhirnya menyadari bahwa hidup ini harus berjuang dan kerja keras, bukan dengan sikap mental yang manja, dan pada akhirnya beliau tahu apa arti sukses.
Bagaimana dengan Anda?
Bagaimana dengan anak Anda?
Bagaimana dengan lingkungan sekitar Anda?
Apakah masih memelihara sikap mental tersebut?
Ayah saya pernah mengatakan, “Jika Anda mendapat sesuatu dengan mudah, maka Anda akan melepaskannya pun dengan mudah. Jika Anda mendapat sesuatu dengan kerja keras, maka Anda akan sangat menghargainya dan akan berpikir dua kali untuk menyia-nyiakannya.”
Pelajaran berharga ini yang selalu ditanamkan kepada anak-anaknya dan membuat saya menyadari bahwa hidup ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, kesuksesan tidak hanya bisa diraih dengan menekan tombol remote dan langsung jadi, tapi butuh sebuah usaha dan kegigihan dari setiap orang.
Selalu belajar untuk tidak menengadahkan tangan kita untuk meminta. Apabila itu adalah pemberian dari orang lain, syukurilah. Tapi jangan pernah meminta jika kita masih bisa melakukan sesuatu dan berusaha. Karena ketika seseorang sudah terbiasa meminta, maka sikap mental ini mulai tertanam dan akan menjadi enggan untuk bekerja keras, sebab segala sesuatunya dengan mudah didapatkannya.
Fenomena ini terkadang masih ada di sekitar kita, apapun yang diminta kepada orangtuanya akan selalu diberikan. Mau mobil baru bisa langsung dipesan, Mau ganti handphone baru bisa langsung dibelikan, dan semua hal yang diinginkan dengan mudah bisa diberikan oleh orangtuanya. Inilah sikap bergantung kepada orang lain. Inilah sikap manja yang justru tidak akan memberikan dampak yang positif kepada sang anak.
Mengutip sebuah pepatah yang sangat inspiratif yaitu, “One who has not tasted bitter, knows not what sweet is.” Seseorang yang tidak pernah mengecap rasa pahit, tidak tahu rasa manis seperti apa. Anda akan jauh menghargai sebuah kesuksesan jika Anda tahu betapa pentingnya sebuah keyakinan, kemauan keras, kerja keras, dan keteguhan hati dalam menjalani proses hidup.
If you want to get something, You have to fight for it.
If you don’t want to fight for it, Never expect anything
Monday, February 26, 2007
You Don't Have Much Time
Berapa umur Anda sekarang?
Apa yang sudah Anda lakukan dan capai selama ini?
Apakah yang Anda lakukan selama ini sudah sesuai dengan cita-cita Anda?
Berapa persen waktu yang Anda pakai 1 hari untuk hal yang bermanfaat ?
Pernahkah Anda menghitung berapa banyak waktu yang sudah Anda buang?
Pertanyaan diatas perlu Anda tanyakan ke dalam diri masing-masing sebagai bentuk self -checking untuk melihat sudah efektifkah saya ini, adakah perkembangan dalam diri saya ini, adakah pencapaian yang saya raih.
Ketika saya menghadiri sebuah seminar singkat di Singapura, salah satu pembicaranya mengatakan sebuah kalimat yang cukup menarik, katanya "Life is too short...don't do something that you don't like". Hidup ini sangat singkat....jangan lakukan sesuatu yang tidak Anda sukai.
Terkadang saya mendengar banyak orang yang bertahun-tahun melakukan pekerjaannya, dan sebenarnya dia tidak menyukai pekerjaannya. Umur semakin bertambah, tahun terus berjalan, tetapi sesuatu yang dia senangi belum pernah dilakukan. Terlepas dari berbagai pertimbangan yang ada pada tiap orang, ada baiknya kita sadari bahwa waktu kita tidak banyak, sangat disesalkan jika kita masih melakukan hal-hal yang jauh dari inner passion kita.
Saya teringat dengan salah satu tagline dari sebuah iklan berbunyi "Every second counts..", bahwa memang benar setiap detik dalam hidup Anda berarti. Jangan habiskan waktu Anda untuk sesuatu yang tidak Anda senangi. Jadi lakukan sesuatu yang Anda cintai dengan sebaik mungkin selama masih ada kesempatan.
Apa yang sudah Anda lakukan dan capai selama ini?
Apakah yang Anda lakukan selama ini sudah sesuai dengan cita-cita Anda?
Berapa persen waktu yang Anda pakai 1 hari untuk hal yang bermanfaat ?
Pernahkah Anda menghitung berapa banyak waktu yang sudah Anda buang?
Pertanyaan diatas perlu Anda tanyakan ke dalam diri masing-masing sebagai bentuk self -checking untuk melihat sudah efektifkah saya ini, adakah perkembangan dalam diri saya ini, adakah pencapaian yang saya raih.
Ketika saya menghadiri sebuah seminar singkat di Singapura, salah satu pembicaranya mengatakan sebuah kalimat yang cukup menarik, katanya "Life is too short...don't do something that you don't like". Hidup ini sangat singkat....jangan lakukan sesuatu yang tidak Anda sukai.
Terkadang saya mendengar banyak orang yang bertahun-tahun melakukan pekerjaannya, dan sebenarnya dia tidak menyukai pekerjaannya. Umur semakin bertambah, tahun terus berjalan, tetapi sesuatu yang dia senangi belum pernah dilakukan. Terlepas dari berbagai pertimbangan yang ada pada tiap orang, ada baiknya kita sadari bahwa waktu kita tidak banyak, sangat disesalkan jika kita masih melakukan hal-hal yang jauh dari inner passion kita.
Saya teringat dengan salah satu tagline dari sebuah iklan berbunyi "Every second counts..", bahwa memang benar setiap detik dalam hidup Anda berarti. Jangan habiskan waktu Anda untuk sesuatu yang tidak Anda senangi. Jadi lakukan sesuatu yang Anda cintai dengan sebaik mungkin selama masih ada kesempatan.
Subscribe to:
Comments (Atom)
